PESONA LIAR “LITLLE AFRICA” DI UJUNG TIMUR PULAU JAWA - PART 2 (End)

By Harley Sastha





 (end(baca PESONA LIAR “LITLLE AFRICA” DI UJUNG TIMUR PULAU JAWA - PART 1 disini)

Hari kedua hanya saya dan dua teman lainnya yang naik ke menara pandang di atas bukit kecil di belakang pesanggrahan. Sedangkan yang lainnya masih terlelap tidur kelelahan. Waktu telah menunjukkan pukul 05:00 WIB saat saya menyusul kedua teman yang terlebih dahuli tiba di atas puncak menara. Dari atas puncak menara kami dapat bebas lepas melihat sekeliling kawasan TN Baluran. Panoramanya begitu indah. Sayang, sebagian awan menutupi sunrise yang kami nantikan. Namun, tetap saja tidak mengurangi daya magis landscape kawasan. Gunung, sabana, pantai dan laut begitu sempurna terlihat. Dikejauhan terlihat Gunung Ijen dan Gunung Raung ikut melengkapi pesona Baluran.

Tidak seperti sehari sebelumnya, hari ini cuaca terlihat lebih cerah. Matahari pagi bersinar terang. Cuaca yang tepat untuk kami mengarungi lautan menuju beberapa pantai pasir putih yang masih bersih, alami dan cantik.

Setelah menyiapkan perbekalan dari kantin Bama, pukul 08:00 WIB, kami sudah bersiap-siap naik perahu nelayan bermesin yang akan membawa kami menuju Pantai Bilik, Pantai Sijile dan Pantai Balanan. Tentu saja tidak kami lupa untuk menggunakan life jacket dan membawa peralatan snorkling.

Perahu akhirnya mulai meninggalkan Pantai Bama. Kawasan pantai Bama dan hutan mangrove disekitarnya dari atas perahu terlihat begitu memesona. Dari balik hijaunya hutan mangrove terlihat dibelakangnya Gunung Baluran yang gagah berdiri. Menurut Pak Taufik, perahu akan menyusuri laut mengelilingi pesisir TN Baluran selama kurang lebih 2-3 jam menuju Pantai Bilik dan Pantai Sijile.

 

Sepertinya memang cukup lama, namun, dua jam menyusuri lautan pesisir TN Baluran tidak akan membuat kita bosan. Kami benar-benar menikmati pengarungan ini. Dari atas perahu terlihat setiap pesisir kawasan yang kami lalui mempunyai panorama dan keindahannya masing-masing.

 

Pantai pasir putih, tebing, sabana dan perbukitan terlihat silih berganti. Hanya satu yang tidak berubah sepanjang perjalanan tersebut yaitu Gunung Baluran. Menyusuri laut pesisir taman nasional membuat kami dapat melihat pesona Gunung Baluran dari berbagai sudut. Sepanjang perjalanan itu Pak Sis dan Pak Taufik menceritakan tempat-tempat yang kami lihat dari kejauhan. Kami juga menjumpai perahu-perahu nelayan lain yang sedang menjaring ikan. Burung-burung laut silih berganti terbang rendah hingga menyentuh permukaan air laut untuk memangsa ikan. Menurut Pak Taufik, laut disekitar sini sangat kaya ikan. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan riak-riak air laut efek dari gerombolan ikan berenang yang sering kami lihat saat itu.

 

Pukul 10:30 WIB, perahu kami akhirnya merapat ke sebuah pantai berpasir putih yang sunyi. Inilah yang dinamakan Pantai Sijile. Jika sedang surut pantai ini terlihat seperti lidah yang menjulur. Itulah sebabnya pantai dinamakan sijile yang artinya lidah. Langit biru, air laut yang jernih, pantai pasir putih dan suasana sunyi dengan latar belakang Gunung Baluran benar-benar menghipnotis kami. Yang semakin menambah daya magis kawasan ini adalah padang sabana yang langsung berbatasan dengan pantai pasir putihnya. Benar-benar tempat yang sempurna untuk sejenak melepas lelah meninggalkan segala kesibukan aktifitas sehari-hari.

Berikutnya kami menuju Pantai Bilik yang lokasinya bersebelahan dengan Pantai Sijile. Untuk menuju pantai tersebut kami berjalan kaki menyusuri sabana. Lagi-lagi kami berdecak kagum begitu tiba disana. Pantai pasir putih yang tidak kalah indahnya. Air lautnya jernih dan tenang. Menurut Pak Sis, kawasan Pantai Bilik merupakan salah satu tempat yang bagus untuk snorkling.

“Wow, ini nih yang namanya bakal terumbu karang. Vit, coba lihat kemari. Banyak banget disini,” teriak Supriadi, geologist yang pernah bekerja di Malaysia ini, kepada Parvita.

Karena penasaran saya pun ikut turun ke laut mengikuti Vitta. Ternyata yang dimaksud Supriadi adalah sesuatu benda berbentuk seperti kelopak bunga yang berada di dalam laut. Tidak perlu menyelam jauh-jauh ke dasar laut dalam. Dilautan dangkal Pantai Bilik hal tersebut sangat mudah kita lihat.

Dari Pantai Bilik dan Pantai Sijile kami kembali melanjutkan perjalanan menggunakan perahu ke Pantai Balanan. Menuju pantai ini perahu berputar kembali ke arah Pantai Bama. Pantai Balanan lokasinya berada sebelum Pantai Bama.

Waktu telah menujukkan sekitar pukul 15:10 WIB saat kami tiba di Pantai Balanan. Sebagaimana dua pantai sebelumnya, pantai ini juga merupakan pantai berpasir putih. Bedanya disini ada tebing karang yang cukup tinggi di sekitar pantai. Air lautnya sangat jernih. Disini masing-masing kami asyik melakukan aktifitas sendiri-sendiri. Ditemani oleh Pak Sis, Malik salah seorang teman kami begitu asyiknya melakukan snorkling.  Sedangkan Supriadi dan Vitta dengan ditemani Pak Taufik tampak serius memperhatikan dan mempelajari batu-batu karang yang ada di sana. Sesekali Supriadi megambil karang-karang yang menarik perhatiannya. Menurut mereka kawasan TN Baluran unik dan menarik. Disana ada aktifitas gunung api yang terjadi dimasa lampau berpadu dengan sabana dan pantai dengan bentukan-bentukan karangnya yang masih terjaga.

“Ikannya banyak beraneka warna dan bagus-bagus. Juga karang-karangnya”, cerita Malik yang baru saja selesai snorkling kepada kami sebelum kembali menuju Pantai Bama.

Hari sudah semakin sore saat kami kembali menyusuri pesisir laut TN Baluran menuju Pantai Bama. Gelombang laut mulai membesar. Mendekati Pantai Bama, gelombang laut semakin besar. Perahu berayun-ayun di hempas gelombang. Akhirnya sekitar pukul 17.15 WIB, perahu merapat kembali di Pantai Bama untuk mengakhiri petualangan hari kedua kami.

Pagi-pagi sekali, kami sudah berkemas untuk mengakhiri penjelajahan hari terakhir, kami kembali menuju Pantai Bama. Sebelum pulang, kami akan mengakhirinya dengan menikmati pesona matahari terbit dari pantai tersebut. Saat kami tiba, sudah banyak pengunjung lain yang berkumpul untuk menikmati dan mengabadikan moment romantis ­sunrise pertama di ujung timur Pulau Jawa ini.

 

Tidak berapa lama sunrise yang kami nanti pun muncul. Semburat warna kemerahan memendar menerangi langit di sekitar Pantai Bama yang saat itu sedang surut. Panorama yang sangat indah. Seekor monyet ekor panjang sepertinya juga tidak mau kehilangan moment ini. Monyet tersebut tampak asyik bermain-main di bibir pantai yang sedang surut. Kami tidak bisa berlama-lama menikmati pagi yang cerah di Pantai Bama. Karena dari sini kami masih menempuh perjalanan sekitar dua setengah jam menuju Bandara Blimbingsari, Banyuwangi, untuk terbang langsung kembali ke Jakarta.

 

Dalam perjalanan pulang, Merak jantan yang kami tunggu sejak hari pertama akhirnya muncul di sekitar kawasan evergreen forest. Sepertinya ia mengembangkan ekornya yang cantik bukan hanya untuk menarik perhatian para betina. Seolah-olah Merak jantan tersebut juga ingin mengucapkan selamat tinggal dan selamat jalan kepada kami. Begitu kami lewat beberapa ekor merak lainnya nampak berjalan masuk ke dalam hutan. Ayam hutan dan burung dengan bulunya yang berwara warni di sepanjang jalan menuju Batangan tersebut, turut serta menyampaikan ucapan selamat jalan kepada kami dengan caranya masing-masing. Saat itu kami melihat beberapa alat berat dan drum-drum aspal yang saat kami datang tidak ada. Sepertinya akan ada perbaikan jalan. Semoga suatu saat ketika kami kembali, jalan di dalam kawasan taman nasional ini lebih baik. 

 

 


Other Blog