PESONA LIAR “LITLLE AFRICA” DI UJUNG TIMUR PULAU JAWA - PART 1

By Harley Sastha





Rintik hujan pagi itu, 29 Nopember 2013, menyambut kedatangan kami di Stasiun Kereta Api Banyuwangi Baru, Jawa Timur. Hampir 6 jam lamanya kereta Eksekutif Mutiara Timur Malam yang berangkat dari Surabaya pukul 22:00 WIB membawa kami bertujuh ke ujung timur Pulau Jawa. Satu tujuan kami, jelalah tanah “Afrika” di Jawa, Taman Nasional (TN) Baluran.

 

Merupakan perwakilan type ekosistem sabana terluas di Pulau Jawa menjadi salah satu alasan taman nasional ini mendapat julukan Afrika Van Java. Namun, keunikannya bukan hanya itu. Banyak atraksi wisata alam lain yang ditawarkan taman nasional yang berada di wilayah Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur ini. Pemandangan bawah laut, pantai pasir putih, hutan pantai, hutan bakau, padang sabana, sungai, gunung, hingga hutan pegunungan bawah menjadikan TN Baluran sebagai salah satu kawasan konservasi dengan ekosistem yang lengkap di Indonesia. Banteng, Kerbau Air, Rusa, Merak, Ayam Hutan, Kucing Hutan, Macan Tutul, Elang, Moyet, Lutung dan beberapa jenis reptil adalah sebagian dari hewan-hewan yang bisa kita jumpai secara bebas dan liar disana. Bagi para pecinta burung penggemar kegiatan birdwaching, TN Baluran adalah salah satu surganya.

Sejak masa Hindia Belanda, tahun 1928, TN Baluran telah mendapat perhatian penting. AH. Loedeboer, pemilik daerah Konsesi perkebebunan di Labuan Merak dan Gunung Mesigit, Jawa Timur, pertama kali menaruh perhatian. Ia meyakini jika kawasan ini mempunyai nilai penting untuk perlindungan satwa, khususnya mamalia besar seperti Banteng. Hingga akhirnya pada tahun 1937, melalui keputusan Gubernur Hindia Belanda saat itu, kawasan Baluran ditetapkan sebagai Suaka Margasatwa.

Tiga puluh lima tahun pasca kemerdekaan, 6 Maret 1980, pada hari Strategi Pelestarian Dunia, Suaka Margasatwa Baluran, bersama-sama dengan Gunung Gede Pangrango, Pulau Komodo, Pegunungan Leuser, dan Ujung Kulon ditetapkan sebagai 5 taman nasional pertama di Indonesia.

Keunikan dan kekhasan salah satu taman nasional tertua dari 50 taman nasional yang ada saat ini, menjadi salah satu alasan kuat kami untuk mengunjunginya. Seperti halnya saya bersama ketujuh teman saya yang lain. Untuk saya sendiri, ini untuk yang ke tiga kalinya saya menginjakkan kaki disini. Dengan luas sekitar 25.000 hektar, tentu tidak cukup waktu 3 hari untuk menjelajahi seluruh kawasan. Namun, sesuai dengan rencana yang telah dibuat satu bulan sebelumnya, kami akan maksimalkan penjelajahan untuk mendapat gambaran langsung pesona sang “Afrika” van Java.

 

 

Sekitar pukul 05:00 WIB, masih di bawah rintik-rintik hujan, dengan menggunakan menggunakan 2 mobil sewaan, kami melaju menuju TN Baluran. Di sepanjang jalan, Pak Dani, supir mobil yang kami gunakan bercerita tentang sejarah beberapa tempat yang dilalui. Termasuk kawasan wisata Pantai Watu Dodol, yang ditandai dengan batu karang besar berwarna hitam yang berada diantara dua ruas jalan raya dan patung Penari Gandrung – tarian khas Banyuwangi – di sudut lainnya persis di sisi pantai.

Saat melewati kawasan wisata Pantai Watu Dodol hujan sudah mulai reda. Taman nasional ini sangat mudah dijangkau karena pintu masuknya berada persis di sisi jalan raya utama Situbondo menuju Ketapang, Banyuwangi. Tepatnya di Batangan. Dengan menggunakan mobil sewaan, kami hanya membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk tiba di gerbang masuk TN Baluran. Tulisan “Selamat Datang Taman Nasional Baluran”, menyambut pertama kali setiap pengunjung yang masuk.

Begitu tiba di halaman kantor pengelola TN Baluran, Visitor Center, kami langsung disambut oleh salah seorang petugas, Pak Mahrudin. Dengan ramah beliau mempersilahkan kami untuk masuk ke salah satu ruangan untuk melihat informasi singkat dan koleksi beberapa hewan taman nasional yang telah diawetkan. Kantor pengelola terlihat cukup bersih dan rapih. Lengkap dengan ruang informasi, ruang tunggu, halaman parkir, mushola, toilet dan toko souvenir. Di halaman parkir terlihat bilboard yang melukiskan maskot TN Baluran, Banteng Jawa dan Rusa. Setelah mengurus administrasi, kamipun siap menjelajahi taman nasional ini.

 

Petualangan di TN Baluran sudah bisa dimulai sejak memasuki pintu masuk kawasan. Gua Jepang yang berada dekat kantor pengelola menjadi awal petualangan. Gua peninggalan tentara Jepang ini dulunya merupakan tempat perlindungan, penyimpanan senjata dan makanan.

Perjalanan berikutnya menyusuri jalan aspal  yang membelah hutan sepanjang kurang lebih 12 km menuju Sabana Bekol. Inilah yang dinamakan hutan musim. Saat kemarau, hutan musim  menjadi kering dan terlihat kecoklatan serta rawan kebaran. Karena saat ini baru memasuki musim hujan, hutan terlihat mulai menghijau. Sayang, saat kami melaluinya aspalnya banyak yang rusak dan hancur. Hujan yang turun menambah parah kerusakan jalan. Di beberapa tempat bahkan terlihat genangan-genangan air. Namun, hal tersebut tidak mengurangi antusias kami untuk mengawali petualangan ini.

 

 

Cuaca yang masih mendung membuat ayam hutan, burung-burung, kupu-kupu dan moyet-monyet yang berkeliaran bebas di sepanjang jalan tersebut tidak sebanyak biasanya. Berbeda dengan saat saya terakhir berkunjung empat bulan sebelumnya. Saat itu ayam hutan silih berganti keluar masuk hutan. Begitupun kupu-kupu dan sekawanan monyet buntut panjang.

Walaupun saat itu hewan-hewan yang bermunculan sedikit, suasana khas alam TN Baluran tetap saja menggoda siapa saja yang melihatnya. Batu-batuan hitam berbagai ukuran nampak memberi kesan berbeda, menyebar berserakan di antara pepohonan di kanan dan kiri jalan. Lalu kami melalui daerah yang disebut Evergreen Forest ­– hutan hijau sepanjang tahun. Melewati Evergreen Forest  memang terasa berbeda. Semuanya terlihat nampak sangat hijau. Hijau yang sangat menyegarkan pandangan mata. Tidak heran jika disini menjadi salah lokasi kegiatan untuk pengamatan flora dan fauna.

Kemudian kami kembali melewati hutan musim lagi sebelum memasuki Sabana Bekol. Setelah hampir satu jam perjalanan dari kantor pengelola, akhirnya kami memasuki wilayah Sabana Bekol. Sejauh mata memandang terlihat padang sabana begitu luas. Pepohonan yang tumbuh jarang-jarang diantaranya justru memberi kesan unik layaknya tanah “Afrika”. Di sisi selatan terlihat Gunung Baluran setinggi 1.200 meter dengan hutannya yang lebat. Disisi lain hamparan sabana yang sangat luas dan berakhir di lautan lepas berbatasan langsung dengan selat Bali.

 

 

Sabana Bekol yang indah ini akan menjadi tempat kami tinggal selama 3 hari kedepan. Kami bermalam di salah satu pesanggrahan yang ada disana. Selain pesanggrahan, disini juga ada pos jaga, dapur umum, mushola, toilet umum, barak Jagawana dan tempat penangkaran Banteng Jawa serta menara pandang. Kami terus melanjutkan perjalanan sejauh 3 km membelah sabana menuju pantai Bama. Sepanjang perjalanan sesekali kami melihat sekumpulan rusa di sabana. Di pantai berpasir putih tersebut kami akan menikmati makan pagi pada satu-satunya kantin yang ada di TN Baluran. Selain kantin, disini juga tersedia pesanggrahan untuk menginap, toilet umum dan pos jaga pengelola. Disni kita dapat melihat monyet ekor panjang berkeliaran liar di atas pepohonan di tepi pantai dan disekitar kantin maupun pesanggrahan. Makanan yang tersedia pun bervariasi dan enak dinikmati. Suasana pantai membuat kami betah berlama-lama di tempat tersebut sambil ditemani teh, kopi dan minuman dingin. 

Sebelum siang, kami kembali menuju Bekol ke pesanggrahan tempat kami bermalam. Wisma Rusa, tempat kami bermalam merupakan rumah panggung sederhana berbahan kayu yang terdiri dari beberapa kamar dan ruang utama tempat berkumpul. Sebagaimana di Bama, disini pun banyak berkeliaran monyet ekor panjang.  

Lepas tengah hari dengan dipandu Pak Taufik dan Pak Siswanto, jelajah TN Baluran pun dimulai. Penangkaran Banteng Jawa yang terletak tidak jauh dari pesanggrahan, menjadi tujuan awal kami. Pak Taufik sengaja membawa kami ke penangkaran, karena saat ini sulit untuk melihat banteng-banteng maupun kerbau air. Musim hujan yang sudah datang menjadi salah satu alasannya.

“Saat musim hujan sumber-sumber air didalam hutan menjadi lebih banyak, sehingga hewan-hewan lebih jarang keluar untuk mencari air”, kata Pak Taufik.

Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri hutan menuju Pantai Bama. Sungguh sebuah panorama hutan yang menarik dan unik. Kami sempat melihat seekor burung Elang bertengger jauh di atas pohon besar. Kami juga melihat sebuah tapak kaki hewan yang masih terlihat di atas jalan setapak. Menurut Pak Sis, kalau melihat bentuk dan ukurannya sepertinya merupakan tapak Ajax – sejenis kucing hutan – yang biasa memangsa Rusa. Menurut cerita Pak Sis, saat melakukan patroli, beliau pernah melihat langsung seekor Ajax yang sedang memangsa Rusa di tengah hutan.

 

 

Tiba-tiba kami dikejutkan oleh serombongan Rusa di depan kami yang berlompatan melintasi sungai. Sepertinya Rusa-Rusa tersebut terkejut oleh kehadiran kami. Sungguh ini sebua pemandangan yang tidak kami duga. Melihat langsung puluhan Rusa liar berlarian di tengah hutan.

Di dalam hutan kami kembali melihat batu-batu hitam berserakan. Bahkan ada yang berukuran besar dan tersusun seperti pagar.

 

 

“Kalau dilihat dari karakternya, batu-batu tersebut merupakan hasil dari aktfitas Gunung Api Baluran yang terjadi beratus-ratus tahun atau mungkin jutaan tahun yang lalu. Kapan tepatnya letusan terakhir terjadi perlu diteliti lebih jauh”, kata Parvita, geologist wanita yang turut serta dalam trip ini. 

 

Di tengah sabana, kami menemukan kerangka seekor Rusa. Menurut Pak Sis, kerangka Rusa tersebut kemungkinan sisa makanan hasil buruan Ajax. Hari sudah semakin sore saat kami tiba di salah satu sudut pantai Bama. Pantai yang sungguh bersih, sunyi dan cantik. Sekumpulan monyet ekor panjang terlihat meramaikan suasana pantai yang sunyi tersebut. Kami berjalan menyusuri pantai dan berakhir di Kantin Bama. Dikawasan Pantai Bama, selain pemandangan pantai, kita juga dapat melakukan aktifitas berenang, bermain cano dan snorkling. Menurut Pak Sis, pemandangan bawah lautnya bagus. Ikan-ikannya beraneka ragam.

 

 

Usai beristirahat dan makan di kantin, penjelajahan kami berlanjut ke kawasan hutan mangrove atau hutan bakau di sekitar pantai Bama. Kami menyusuri mangrove trail – jembatan layaknya dermaga yang menjorok ke laut membelah hutan mangrove. Kawasan hutan mangrove ini terlihat masih sangat terjaga dengan baik. Ukurannya pohon bakau terlihat besar-besar. Persis di ujung dermaga, terlihat jelas sejauh mata memandang pesisir tersebut penuh ditumbuhi hutan mangrove. Sungguh sangat cantik.

Karena hari sudah semakin sore, dengan mobil jemputan kami kembali membelah sabana menuju Bekol. Dalam perjalanan tersebut kembali segerombolan Rusa yang jumlahnya ratusan menarik perhatian kami. Tentu hal ini tidak akan kami sia-siakan untuk mengambil gambar aktifitas mereka dengan kamera. Sayang, pada penjelajahan hari pertama, kami belum dapat melihat Merak jantan dengan ekornya yang memesona. Hanya beberapa ekor Merak betina yang sempat kami lihat.

Usai makan malam, sekitar pukul 20:30 WIB, penjelajahan kami lanjutkan dengan safari night dari Bekol hingga evergreen forest menggunakan mobil. Sepanjang perjalanan dengan bantuan senter, mata kami tidak lepas dari sabana dan hutan di kanan dan kiri jalan. Sayang harapan kami untuk dapat melihat macan tutul/macan kumbang tidak terpenuhi. Walaupun begitu, kami cukup senang karena dapat melihar seekor ular hijau yang berada di ranting pohon. Safari night  kami akhiri dengan kembali ke sabana untuk melihat jutaan bintang di atas lanngit TN Baluran yang cerah. Sesekali terlihat bintang jatuh diantara jutaan bintang-bintang tersebut. Suasana malam yang sangat indah dan romantis. 


Other Blog