Labuan Hati Pulau Komodo

By Desy Permata





Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar kata ‘Komodo’? Spesies langka? Binatang berbahaya? The last dragon in our world? Atau apa? Bagi saya, rindu berkali-kali adalah kata-kata yang muncul pertama kali di pikiran ketika kata ‘Komodo’ terdengar.

 

Bagaimana tidak? Kelangkaannya yang hanya bisa dinikmati langsung di alam liar hanya ada di Taman Nasional Komodo, tidak di tempat lain! Keindahan berbagai pulau kecil maupun besar seperti Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar, serta pantai-pantai dengan pasir putih dan pinknya melengkapi indahnya Taman Nasional Komodo dengan sempurna!

 

Sepanjang mata memandang adalah biru hamparan laut tenang, sepanjang mata memandang adalah bukit-bukit hijau seperti pernak-pernik pada kain yang membentang panjang, angin asin yang sejuknya tak ada dua, membius setiap pejalan supaya tak pernah bosan walau diayun ombak.

 

“Dik, sudah pernah dengar tentang legenda Puteri Naga Komodo?”, Tanya Pak Haji, sapaan saya dan teman-teman saya yang menginap di satu homestay di Pulau Komodo kepada si pemilik homestay. “Dahulu kala….”, Pak Haji mulai bercerita menemani kami, tamu-tamunya yang berasal dari Ibukota santap malam. “…ada putri Naga yang menikah dengan manusia bernama Majo, dan mereka memiliki anak kembar lelaki dan perempuan. Ajaibnya, satu bayi lelaki ini adalah manusia, dan yang perempuan itu Komodo, dik!”, Pak Haji bercerita seru, “Masa sih, Pak?!”, potong saya, penasaran. “Namanya legenda, Dik. Percaya nggak percaya”. But really Pak Haji, I think I’m gonna trust this story more than I trust what science said.

“Sampai suatu ketika mereka berdua tumbuh besar, lelaki yang bernama Gerong  ini pergi ke hutan hendak berburu dan menemukan saudara  kembar perempuannya yang bernama Orah, si Komodo ini. Dan saat Gerong ingin melemparkan tombak pada Orah, karena Orah dianggap menghalangi perburuan Gerong, datanglah Ibu mereka, si Putri Naga. ‘Jangan bunuh hewan ini, dia adalah saudara perempuanmu, Orah. Akulah yang melahirkan kalian. Anggaplah dia sesamamu karena kalian bersaudara kembar’. Dan semenjak saat itu, masyarakat di Kampung Komodo ini hidup rukun dengan Komodo sampai sekarang.”

 

 “Bahkan, Dik, istri saya itu masih keturunan Komodo langsung. Ketika ada acara-acara adat disini, dialah yang menghubungkan kami dengan Putri Naga”. See? What an amazing story!

Cantik. Pulau Padar seakan-akan memiliki semua hal yang mendefinisikan kata ‘cantik’. Trekking selama kurang lebih 30 menit, terbayar sudah dengan keindahannya. Salah satu pulau terbesar di kepulauan komodo ini mempunyai daya tarik tersendiri bagi para pengunjungnya dengan tiga lekukan pantai yang bisa dilihat dari atas Pulau Padar.

 

Berkali-kali kubilang, pasir dan air di bibir pantai adalah hal termudah untuk dirindukan. Memanggil berisik supaya selalu kembali, ketika telingamu tuli oleh hal-hal menjemukan dalam padat kota ini. Seolah ‘bahagia itu sederhana’ menjelma pada Lautan Flores yang mengubur penatmu dan mengubahnya menjadi cerita yang tak akan habis kauceritakan meski usiamu bertambah setiap tahunnya.

Berkali-kali kubilang, mungkinkah rindu bagimu serupa bahagia melibatkan laut di setiap kisah, seasin air yang melekat erat sampai di kulit kepala, sesejuk angin sore yang mengantar matahari kembali ke peraduan, pasir di sela-sela jemari kaki dan indah terumbu karang yang memanjakan mata, serta langit jingga yang menandakan bahwa harimu terlewati terlalu sempurna.

Pada semesta yang baik, kutitip rindu untuk Flores dan lautannya, sampaikan di setiap  senja, jangan dulu berubah sampai kelak anak-cucuku singgah.


Other Blog