Conservation Journey: Oase Harapan dari Pedalaman Kalimantan (Part 1)

By Iben Yuzenho





“Beberapa tahun yang lalu mereka bilang kami bodoh, karena kami tidak mau melepas lahan hutan kami (untuk ekspansi sawit: red). Namun nyatanya kini, hanya kami desa satu-satunya di wilayah ini yang sudah memiliki listrik 24 jam” ungkap Pak Agustinus, Kepala Desa Merabu di depan warga dan tamu Conservation Journey yang mengunjungi Desa Merabu, Kecamatan Kelay, Berau yang terletak tepat di Kaki Perbukitan Karst Sangkulirang-Mangkalihat yang membentang tegap gagah perkasa dari Tabalar di Barat hingga Kutai di Timur.

Jajaran Perbukitan Karst Sangkulirang-Mangkalihat

Siang hari itu, 23 Agustus, kami tiba di Desa Merabu setelah 3 jam perjalanan darat dari Tanjung Redeb yang diselingi dengan menyeberangi sungai Kelay dengan perahu angkut tradisional. Dari Jakarta, untuk mencapai Tanjung Redeb, ibukota Kabupaten Berau, dibutuhkan penerbangan selama 3 jam 15 menit dengan satu kali transit selama 1 jam di Balik Papan. Dalam perjalanan yang cukup panjang ini kita akan melalui areal perkebunan sawit yang luas sejauh mata memandang dan sekali-kali petak hutan produksi yang sengaja dibakar oleh masyarakat untuk dibuka menjadi ladang di kanan kiri jalan. 

Menyebrangi Sungai Kelay dengan Perahu Angkut Tradisional

Kepungan Perkebunan Sawit Sejauh Mata Memandang

Desa Merabu adalah sebuah desa yang memiliki hak atas pengelolaan Hutan Desa seluas 8245 Hektar dari total 22.000 Hektar wilayah Desa. Ketika desa-desa di Kelay, khususnya yang terletak di sepanjang aliran Sungai Lesan yang menjadi nadi kehidupan masyarakat, berbondong-bondong menjual dan mengkonversi hutannya menjadi perkebunan sawit dan hutan produksi, warga Desa Merabu mengambil jalan yang tak biasa. Mereka memutuskan untuk menjaga dan mempertahankan hutan desanya. Hutan desa adalah layaknya Rumah bagi masyarakat Merabu yang mayoritas dihuni oleh suku asli setempat, Dayak Lebo. Nenek moyang mereka turun temurun mendiami goa-goa di sela perbukitan Karst. Hutan adalah kehidupan mereka, mereka mendapatkan air, makanan, obat-obatan, perkakas, kebutuhan Rumah tangga dari kekayaan hutan. Mulai dari lahir hingga wafat, sendi-sendi kehidupan masyarakat Dayak Lebo bergantung pada hutan. Hutan menyediakan kebutuhan bagi bayi yang baru lahir, ibu yang hamil, melahirkan dan menyusui, hingga kayu yang dipakai sebagai peti atau Lungun jenazah ketika mereka wafat. Mereka menyadari bahwa hilangnya hutan adalah sama dengan runtuhnya pilar penyangga kehidupan mereka dan berujung pada hilangnya Identitas kebudayaan mereka. Hutan berada pada titik sentral eksistensi keberadaan mereka sebagai manusia.

Suku Dayak Lebo yang Mendiami Pinggiran Sungai Lesan

Memasuki areal Desa Merabu, kita akan disambut dengan tugu komitmen pelestarian hutan desa yang terletak di lapangan desa, tidak jauh dari tepioan sungai Lesan, yang walaupun tengah surut karena Kemarau namun masih asri diapit kanopi pepohonan hutan desa.  Bulan ini bunga banyak bersemi, Pohon Jelemu dan Mengris pun dipenuhi sarang lebah yang menghasilkan madu hutan alami yang lagi-lagi menyediakan manfaat bagi warga. Setelah disambut dengan upacara penyambutan tradisional oleh Kepala Adat setempat yang bernama Pak Ransum, dari Balai Desa kami diajak Kepala Desa berkeliling melihat-lihat wilayah desa yang walau dengan segala keterbatasan yang ada terus bergeliat membangun dan tidak mau ketinggalan dari derap kemajuan dunia. Bagaimana tidak, meskipun berada jauh di pedalaman, dimana sinyal telepon pun nyaris tak ada, desa ini sudah memiliki wifi dari perangkat satelit yang bisa dinikmati warga dan pengunjung yg datang. Harga paketnya adalah 65 ribu per 500MB data, sedikit lebih tinggi namun amat wajar mengingat lokasi yang terisolasi. Setelah berkeliling mengunjungi Sekretariat Kerima Puri badan usaha milik desa, perpustakaan, Sekolah dasar dan Balai Adat Desa yang tengah dibangun, kami tiba di Ladang Panel Pembangkit Listrik  Tenaga Surya yang mengalirkan listrik selama 24 jam bagi Desa Merabu dan Desa tetangganya. Komitmen kuat warga untuk menjaga hutan telah menjadikan Merabu dikenal dan menjadi inspirasi bagi dunia, berbagai bantuan sebagai bentuk apresiasi untuk mereka berdatangan salah satunya dalam bentuk dana hibah melalui The Millenium Challenge Corporation. Warga Desa Merabu adalah pernyataan hidup yang menjadi bukti monumental bahwa alam yang lestari akan membawa berkah bagi mereka yang senantiasa menjaga dan menghormatinya. Bukan hanya untuk hari ini namun juga untuk banyak generasi yang akan datang. 

Pak Ransum, Kepala Adat Merabu di depan Perpustakaan dengan iklan WI-FI data

Sungai Lesan, Denyut Nadi Kehidupan Warga Kampung Merabu

Panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Kampung Merabu

Matahari hampir terbenam, suasana sore yang sejuk menyeruak ketika kami memasuki areal ranch desa yang bernama  Doko’an Lemu tempat Kerima Puri memelihara sapi dan kambing dan menggunakan kotorannya sebagai pupuk bagi sayuran organic yang sebagian dikonsumsi warga dan sebagian lagi dilempar ke pasar Kabupaten di Muara Wahau. Desa Merabu adalah desa yang kreatif, meskipun secara turun termurun insting mereka adalah insting masyarakat berburu dan meramu, mereka terus beradaptasi dengan perubahan zaman untuk tetap eksis, salah satunya dengan mengembangkan model perekonomian agrosilvopastural yang memadukan kekayaan hutan dengan usaha peternakan dan pertanian. 

Lahan Pertanian Organik di Dokoan Lemu

Persis di belakang Dokoan Lemu berdiri Tiga Buah lodge yang didirikan oleh The Nature Conservancy, kini lodge itu digunakan untuk kegiatan ekowisata yang menjadi salah satu potensi penggerak ekonomi desa yang menyediakan lapangan kerja bagi para pemuda desa menjadi guide, porter, pengemudi perahu ketinting, jasa catering, homestay dan souvenir. Turis domestik dan asing tak henti datang untuk melihat langsung dari dekat keunikan Desa Merabu, yang bukan hanya memberikan inspirasi tentang bagaiman usaha konservasi bisa berjalan beriringan dengan pembangunan ekonomi, namun juga menyimpan keindahan topografi alam perbukitan Karst dan kenekaragaman hayati di tepian sungai khas Kalimantan. Danau Nyadeng yang berwarna hijau kristal, puncak karst Ketepu yang gagah dan Gua Beloyot yang menyimpan jejak tapak tangan manusia prasejarah adalah beberapa atraksi utama wisata desa yang menarik untuk dijelajahi. Malam mulai beranjak larut, Dari teras lodge bulan purnama perlahan naik menyapa, saya merasa tidak pernah merasa berada sedekat itu dan sejelas itu menatap bulan. Hari beranjak malam dan saya mendadak tidak sabar agar hari segera berganti karena keesokan harinya kami akan menjelajahi keindahan alam di sekitar Hutan Desa Merabu.  

Jon Salah Satu Pemandu Wisata dan Pengemudi Ketinting di Kampung Merabu

Souvenir Anyaman Khas Merabu

Lodge Wisata untuk Pengembangan Ecotourism yang dibangun oleh The Nature Conservancy

Pemandangan Purnama di atas Kampung Merabu dari Teras Lodge

(Bersambung Ke Conservation Journey Part 2)


Other Blog